Kawan2, ada yg udah kepingin banget punya bayi? Ada yg udah membayangkan ciri2 apa yang diinginkan ada pada bayi idaman? Baik itu jenis kelamin, ciri fisik, kepribadian, bebas dari penyakit genetik, dll. Klo jawabannya ya, berarti kalian mulai berpikir tentang mendisain bayi. Nah, terkait dengan hal itu, disini akan gw bahas satu per satu.
Umumnya orang2 menganggap bahwa beruntung sekali pasangan yang bsa mendapatkan bayi laki2 dan bayi perempuan. Alasan subjektif? Demi meneruskan garis keturunan Ayah (marga), demi menjaga keluarga (tipikal untuk bayi laki2); demi meneruskan garis keturunan ibu sehingga dapat pengakuan sebagai saudara(adat Minang), demi mencetak Miss Indonesia/Miss Universe masa depan, demi menemani+membantu beres2 di rumah (tipikal untuk bayi perempuan); biar menjadi keluarga yang lengkap dan rukun (bayi laki2 dan perempuan cenderung tidak berkelahi), dll (silahkan dikarang sendiri). Alasan objektifnya? Memiliki sepasang bayi laki2 dan perempuan berarti menjaga kelestarian Kromosom Seks Ayah sebesar 100% (yaitu kromosom X dan kromosom Y), ada penyakit tertentu yang cenderung bermanifestasi pada anak laki2 sehingga menyulitkannya mendapat beberapa pekerjaan (misal buta warna dilarang menjadi dokter, insinyur, pengumpul tol, dll), dst yg belum terpikirkan. Didorong oleh alasan2 itu kta berupaya menentukan jenis kelamin bayi. Caranya? Masing2 orang tentu punya tips. Ada yg melakukan manuver / perilaku tertentu sebelum, saat atau setelah 'berhubungan'. Adapula yang mengatur waktu yang tepat untuk melakukannya (misalnya: untuk mendapat bayi perempuan maka hubungan dilakukan pada 14 hari sebelum tanggal haid berikutnya biasa terjadi). Dosen Ilmu Faal Kedokteran di kampus saya percaya bahwa untuk mendapat anak perempuan maka tugas pria ialah membuat sang istri mengalami orgasme yang asli/tidak dibuat-buat (Dosen saya mempraktekannya sendiri dan terbukti anaknya semua perempuan). Terlepas dari itu, sains telah mengungkap bahwa jenis kelaimin bayi ditentukan oleh jenis sperma Ayah yang berhasil membuahi sel telur ibu. Jika sperma Ayah membawa kromosom X maka akan tercipta bayi perempuan; jika sperma Ayah membawa kromosom Y maka akan tercipta bayi laki-laki. Di Amerika sudah ada teknologi untuk memisahkan kedua jenis sperma ini (berbeda secara ukuran dan kecepatan bergerak) agar secara selektif bsa dipertemukan dengan ovum. Mengingat hal ini membutuhkan jasa Calo perantara (baca: sang ilmuwan) dengan teknologi canggih, maka biaya yang diperlukan tidaklah sedikit.
Lalu, bagaimana mendisain fisiknya? Ya, mengingat saat ini teknologi penyisipan gen artifisial pembawa sifat tertentu masih dilarang pada manusia, maka potensi sifat fisik anak masih tergantung pada kombinasi fisik kedua orangtuanya. Namun, ada 1 aspek fisik yang bsa ditambah secara signifikan. Itu adalah tinggi badan. Caranya: datanglah ke dokter Anak ahli Endokrin dan minta suntikan Hormon Pertumbuhan diberikan saat anak sedang dalam masa pertumbuhan. Selain itu, ingatlah untuk memberikan asupan nutrisi dan stimulasi fisik yang optimal pada anak demi mendukung pertumbuhan fisik yang optimal.
Bagaimana dengan kepribadian? Perkembangan bayi tergantung dari kasih sayang dan stimulasi fisik (melatih dengan memberikan contoh praktis) dari orangtuanya. Jika ingin kepribadiannya baik, maka berikan pelayanan optimal tersebut padanya sejak bayi. Agar tidak berlebihan, mintalah nasihat dari dokter/praktisi pendidikan bayi dan anak. Hingga saat ini pendapat yang berkembang dikalangan para ahli kejiwaan di seluruh dunia ialah pengalaman masa bayi dan anak2 memberikan pengaruh dominan (bisa + atau -) pada perkembangan kepribadian. Hal ini akan menjadi komponen dari kepribadian yang terbentuk kelak dan akan dibawa terus seumur hidupnya. Contohnya: Kecenderungan anak mengalami gangguan konsentrasi dan perilaku hiperaktif akan meningkat pada anak yang mendapat paparan >1 bahasa di usia di bawah 2 tahun. Contoh lain: di usia 4 tahun anak sudah punya preferensi (kecenderungan) menilai orang dari warna kulit (misal: kulit gelap dikonotasikan negatif, kulit putih dikonotasikan positif). Jadi, orang tua sebaiknya benar2 berperan dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini agar bsa menanamkan nilai2 baik/kebenaran yang universal pada anak.
Hal yang terakhir adalah pertimbangan untuk bebas dari penyakit genetik. Penyakit genetik cenderung dihindari keberadaanya oleh para orang tua. Alasannya beragam, yaitu: bsa menyengsarakan kehidupan anak (mengakibatkan cacat, meningkatkan risiko kematian usia dini, menjadi sasaran stigma negatif masyarakat), bsa menyengsarakan orangtua (biaya pemeliharaan kesehatan, dan pendukung tumbuh kembang optimal yang mahal), dan bsa menyengsarakan keluarga besar (menjadi beban keluarga besar). Lalu bagaimana cara mencegahnya? Kalian bsa melakukan skrining genetik pra pernikahan, adopsi bayi/anak yang sudah terbukti sehat genetik (dari riwayat keluarga dan pemeriksaan petugas medis), atau menerapkan sewa ibu pengganti (sperma ayah dipertemukan dengan ovum wanita lain lalu ditanamkan ke rahimnya; untuk menghindari sifat penyakit genetik yang dibawa ibu), atau menggunakan metode PGD ((pregestasional/prenatal) genetic diagnosis/ diagnosis penyakit genetik sebelum kehamilan/ sebelum lahir). Sifat genetik embrio (hasil kombinasi sperma dan ovum) bsa diketahui sejak dini dengan mengambil 1 copy kromosom pada awal masa embrionik (morula/blastula). Bsa juga mengetahuinya dengan melakukan analisis jaringan hasil amniosentesis (saat janin dalam kandungan). Dengan deteksi dini tersebut, hasil informasi bsa jadi pertimbangan untuk meneruskan/menggagalkan upaya pembuatan bayi.
Nah, itulah fakta2 dan cara2 ilmiah yang saya ketahui hingga saat ini. Ada yang tertarik/tertantang untuk mencoba? Jika memang ada dan itu adalah Anda, maka Anda akan turut berpartisipasi menambah khasanah penerapan sains dalam peradaban manusia masa kini. Mengingat kebanyakan teknologi tersebut masih baru, maka Anda bsa dikenal sebagai pelopor. Selamat mencoba dan semoga berhasil. Wasalam.
Kamis, 05 Agustus 2010
Senin, 02 Agustus 2010
Bahaya Alergi dan Penanggulangannya
Apa yang kalian bayangkan jika mendengar kata alergi? Mungkin kebanyakan akan terpikir alergi obat, alergi makanan, alergi minuman dan alergi debu. Apalagi? Yang jarang terpikir ialah alergi serbuk sari, alergi bisa tawon, alergi tanaman beracun, dan alergi lateks (bahan pembuat plastik/karet). Lalu untuk apa kita peduli terhadap alergi dan berbagai penyebabnya? Bacalah baik-baik tulisan berikut ini karena gw akan coba menjelaskan.
Alergi adalah reaksi dari sistem imun tubuh yang berlebihan saat ada benda asing yang masuk/ berkontak erat dengan tubuh. Dikatakan berlebihan karena sebenarnya benda asing itu tidak berbahaya untuk kita, namun kehadirannya ditanggapi berlebihan oleh sistem imun kita. Mau bukti? Sekarang pikirkan apa sih bahayanya antibiotik, susu, kacang, gandum, daging, karet/plastik untuk kita. Sederhananya ga bahaya kan. Tapi tubuh orang yang punya alergi bisa menanggapinya dengan reaksi ekstrim. Dimulai dari gatal dan merah di kulit, hidung tersumbat, mata merah, kepala pusing, rasa tidak nyaman di perut, sesak nafas, hingga bsa berujung pada kehilangan kesadaran, gagal nafas bahkan kematian. Reaksi yang paling berat ialah reaksi anafilaktik. Pasien yang mengalaminya bsa sampai kondisi syok yang jika tidak segera diatasi bsa menuju pada kematian. Untuk lebih bsa merasakan keadaan emosinya, tanyalah teman/keluarga yang pernah mengalami kejadian alergi hingga sesak. Rasanya benar2 ga karuan deh. Bukan hanya untuk penderita alergi, tapi juga untuk orang yang ada di dekatnya (pengantar) dan para petugas kesehatan yang ingin menolongnya. Bayangkan apa yang akan dilakukan keluarganya klo tau anaknya yang tercinta tidak bisa ditolong hanya karena sakit setelah makan kacang. Keluarga bisa kalap dan menyalahkan semua orang yang ada di dekat anaknya di saat genting tapi ga bsa menolongnya.
Lalu, bagaimana kita bsa mencegah hal2 itu agar tidak terjadi? Bagaimana tindakan kita jika hal2 itu terlanjur terjadi? Prinsipnya: reaksi alergi timbul jika ada alergen (agen penyebab alergi). Jadi, penderita harus waspada atas hal2 yang sebelumnya pernah memicu reaksi alerginya (walaupun reaksinya ringan) dan teman/orang dekat/petugas kesehatan harus menanyakan riwayat alergi jika akan memberikan substansi yang berpotensi alergi. Lebih bagus lagi jika penderita alergi atau orang yang berpotensi alergi (keturunan dari orang tua yang punya riwayat alergi) melakukan tes alergi pada kulit. Pergilah ke klinik yang menyediakan pelayanan pemeriksaan alergi. Jika sudah tahu hasilnya, sebaiknya diingat2 untuk menjauhi alergen. Untuk anak2 bahkan bsa diberi kalung berisi tulisan peringatan alergi, sehingga orang lain tidak sembarangan memberikan sesuatu pada anak itu. Untuk yang pernah mengalami reaksi anafilaktik, sebaiknya membawa obat anti alergi (bsa antihistamin atau metil predisolon), bronkodilator (salbutamol) dan suntikan berisi adrenalin. Kalau2 terjadi reaksi yang mengarah pada anafilaktik, bsa segera diberi suntikan adrenalin. Jika reaksi alergi terlanjur terjadi dan ditakutkan keadaan penderita makin memburuk, segera bawa ke RS terdekat. Sedia payung sebelum hujan.
Apakah RS menjamin pasien bebas dari reaksi alerginya? Biasanya ya, tapi hal ini tidak berlaku bagi alergi lateks. Seperti kita tahu, banyak alat2 kedokteran yang terbuat dari lateks. Antara lain: sungkup nafas, karet tensi, handscoon, IV catheter, segala macam tube (termasuk yang untuk intubasi), dan hal2 lain yang saat ini belum terpikirkan. Bagaimana pasien alergi lateks yang mengalami syok anafilaktik bsa tertolong jika semua alat medis yang tertempel di badannya adalah alergen (penyebab reaksi alergi)? Cobalah renungkan. Walaupun kawan2 mungkin belum pernah mengalami/menyaksikan kasus ini. Amat ironis bukan? Sebenarnya ini bsa diatasi. Gunakan saja alat2 medis yang tidak menyebabkan reaksi itu (tidak terbuat dari lateks). Kalau tidak ada di Indonesia (ataupun di rumah sakit pusat rujukan nasional), saya sarankan sebaiknya segera memesannya sekarang. Coba pesan ke Eropa atau Amerika. Sepertinya mereka punya, walaupun terbatas.
Alergi adalah reaksi dari sistem imun tubuh yang berlebihan saat ada benda asing yang masuk/ berkontak erat dengan tubuh. Dikatakan berlebihan karena sebenarnya benda asing itu tidak berbahaya untuk kita, namun kehadirannya ditanggapi berlebihan oleh sistem imun kita. Mau bukti? Sekarang pikirkan apa sih bahayanya antibiotik, susu, kacang, gandum, daging, karet/plastik untuk kita. Sederhananya ga bahaya kan. Tapi tubuh orang yang punya alergi bisa menanggapinya dengan reaksi ekstrim. Dimulai dari gatal dan merah di kulit, hidung tersumbat, mata merah, kepala pusing, rasa tidak nyaman di perut, sesak nafas, hingga bsa berujung pada kehilangan kesadaran, gagal nafas bahkan kematian. Reaksi yang paling berat ialah reaksi anafilaktik. Pasien yang mengalaminya bsa sampai kondisi syok yang jika tidak segera diatasi bsa menuju pada kematian. Untuk lebih bsa merasakan keadaan emosinya, tanyalah teman/keluarga yang pernah mengalami kejadian alergi hingga sesak. Rasanya benar2 ga karuan deh. Bukan hanya untuk penderita alergi, tapi juga untuk orang yang ada di dekatnya (pengantar) dan para petugas kesehatan yang ingin menolongnya. Bayangkan apa yang akan dilakukan keluarganya klo tau anaknya yang tercinta tidak bisa ditolong hanya karena sakit setelah makan kacang. Keluarga bisa kalap dan menyalahkan semua orang yang ada di dekat anaknya di saat genting tapi ga bsa menolongnya.
Lalu, bagaimana kita bsa mencegah hal2 itu agar tidak terjadi? Bagaimana tindakan kita jika hal2 itu terlanjur terjadi? Prinsipnya: reaksi alergi timbul jika ada alergen (agen penyebab alergi). Jadi, penderita harus waspada atas hal2 yang sebelumnya pernah memicu reaksi alerginya (walaupun reaksinya ringan) dan teman/orang dekat/petugas kesehatan harus menanyakan riwayat alergi jika akan memberikan substansi yang berpotensi alergi. Lebih bagus lagi jika penderita alergi atau orang yang berpotensi alergi (keturunan dari orang tua yang punya riwayat alergi) melakukan tes alergi pada kulit. Pergilah ke klinik yang menyediakan pelayanan pemeriksaan alergi. Jika sudah tahu hasilnya, sebaiknya diingat2 untuk menjauhi alergen. Untuk anak2 bahkan bsa diberi kalung berisi tulisan peringatan alergi, sehingga orang lain tidak sembarangan memberikan sesuatu pada anak itu. Untuk yang pernah mengalami reaksi anafilaktik, sebaiknya membawa obat anti alergi (bsa antihistamin atau metil predisolon), bronkodilator (salbutamol) dan suntikan berisi adrenalin. Kalau2 terjadi reaksi yang mengarah pada anafilaktik, bsa segera diberi suntikan adrenalin. Jika reaksi alergi terlanjur terjadi dan ditakutkan keadaan penderita makin memburuk, segera bawa ke RS terdekat. Sedia payung sebelum hujan.
Apakah RS menjamin pasien bebas dari reaksi alerginya? Biasanya ya, tapi hal ini tidak berlaku bagi alergi lateks. Seperti kita tahu, banyak alat2 kedokteran yang terbuat dari lateks. Antara lain: sungkup nafas, karet tensi, handscoon, IV catheter, segala macam tube (termasuk yang untuk intubasi), dan hal2 lain yang saat ini belum terpikirkan. Bagaimana pasien alergi lateks yang mengalami syok anafilaktik bsa tertolong jika semua alat medis yang tertempel di badannya adalah alergen (penyebab reaksi alergi)? Cobalah renungkan. Walaupun kawan2 mungkin belum pernah mengalami/menyaksikan kasus ini. Amat ironis bukan? Sebenarnya ini bsa diatasi. Gunakan saja alat2 medis yang tidak menyebabkan reaksi itu (tidak terbuat dari lateks). Kalau tidak ada di Indonesia (ataupun di rumah sakit pusat rujukan nasional), saya sarankan sebaiknya segera memesannya sekarang. Coba pesan ke Eropa atau Amerika. Sepertinya mereka punya, walaupun terbatas.
Langganan:
Postingan (Atom)